Mari kawan kita bersulang

⊆ 11:01 AM by less | ˜ 0 comments »

Suatu hari kita akan Berkumpul Kawan
Dalam rencana Tuhan yang Indah
Dari sebuah misi yang Agung
Yang kita tuntaskan bersama
Memang saya bukan yang terbaik
Tapi saya akan menjadikan ini yang terbaik

Mari bersulang demi sebuah mayoritas
Yang telah lama di rong-rong oleh ketidak adilan
Mengusir Para minoritas yang telah lama berkuasa
Wujudkan mimpi yang selama ini hilang
Mari bersatu kawan runtuhkan tembok penghalang
Usir para penjajah dari muka bumi kita

Powered by Virtex
date Getdate()
Inspired never the same

 

Aku Hanya sebuah alat

⊆ 5:49 PM by less | ˜ 0 comments »

Aku hanya sebuah Alat
Alat dari sebuah Arogansi
Arogansi dari Sebuah Egositas
Egositas dari kesombongan
Kesombongan dan tirani
Tirani penuh ambisi dan Picik
Picik dan Busuk

Aku hanya sebuah alat
Alat atas sebuah minoritas yang mencoba berkuasa
Berkuasa menjunjung tinggi sebuah golongan
Golongan yang angkuh
Angkuh dan congkak
Congkak dan kejam
Kejam dan tidak punya nurani

Powered Virtex
Date Getdate()
Inspired Jangan Pernah menyerah

 

Makna Sebuah Titipan karya W.S.Rendra

⊆ 4:42 AM by less | ˜ 0 comments »

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa:
sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Allah
bahwa rumahku hanya titipanNya,
bahwa hartaku hanya titipanNya,
bahwa putraku hanya titipanNya,

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu
diminta kembali olehNya?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa
itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku".
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku.

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk
beribadah...

"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"



Pas dibaca & diresapi rasanya tepat menghujam jantung...